Di tepi malam berbatas pagi,
Kupandangi jalan-jalan setapak yang pernah kulalui,
Dalam berpuluh gelap malam,
Dalam berpuluh sinar pagi,
Dalam berpuluh hari di terik matahari,
Semangatku menggelora,
Dulu
Kudaki bukit-bukit sekitar Lakawan,
Dulu
Kudaki bukit-bukit sekitar Lakawan,
Dalam tatih-tatih karena tak biasa,
Kabut menjemput dan menutup pandanganku,
Kuterjang, kekejar,
Karena semangatku, karena harapanku,
Dulu,
Mengapa berpuluh hari itu kadang menggelitikku,
Seolah menarikku keluar menghirup segarnya pagi,
Menikmati malam dengan kunang-kunang,
Menikmati terik matahari dengan gairah,
Aku mengukirnya dalam sanubariku,
Berpuluh hari dalam penanggalan yang rajin kuhitung,
Biarkan aku menikmati yang pantas bagiku,
Berpuluh hari dalam penanggalan yang rajin kuhitung,
Biarkan aku menikmati yang pantas bagiku,
Meneriaki Bambapuang yang menelan suaraku di tebing-tebingnya,
Meneriaki Mata Allo yang menelan suaraku dalam alirannya,
Dalam hitungan beribu-ribu hari yang singgah dan berlalu,
Dalam hitungan beribu-ribu hari yang singgah dan berlalu,
Percuma menaruhnya di pinggir hati,
Percuma membuangnya,
Percuma membuangnya,
Karena sewaktu-waktu dia menyeruak keluar,
Memandangku tajam,
Membuatku tertunduk malu,
"kekasih, di sini aku pernah mengajarimu sebuah keberanian akan cinta"
Di tepi malam berbatas pagi,
Sekali lagi kupandangi jalan setapak yang pernah kulalui,
Dalam diam, dalam renungan,
Kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar