Senin, 03 Mei 2010

SAHABAT

Bahagianya dapat bertemu kembali denganmu,
Di separuh perjalanan usia,
Perjalanan waktu menceritakan banyak hal,
Dalam hidupku pun hidupmu,
Segalanya bercampur,
Tawa, air mata, sukacita sekaligus dukacitanya,
Yang kulalui tanpamu,
Pun dikau lalui tanpaku,
Kelak,
Semoga kita dapat melakukannya bersama,
Betapa aku bersyukur kepada Tuhan,
Karena memiliki dikau sahabat.

Belajar dari kupu-kupu


Ketika masih kecil,
Sering kupandangi kupu-kupu,
Yang terbang dan hinggap,
Dari satu kelopak ke kelopak bunga lainnya,
Mereka adalah mahluk yang indah,
Namun teramat lemah, jinak dan tak berdaya,

Aku senang memandangi kepak sayapnya,
Warnanya senantiasa membuatku kagum,
Dengan lembut mereka terbang ke sana ke mari,
Kupu-kupu mahluk yang cantik

Ketika menjadi dewasa,
Bagiku kupu-kupu tetaplah mahluk indah,
Keindahan yang dapat kunikmati lebih dalam,
Sekaligus kekaguman akan hidupnya,
Rentang hidupnya tidaklah sepanjang rentang hidupku,

Dia melakukan tugasnya dengan sempurna,
Tak percuma ketika ia terbang dari satu kelopak ke kelopak lainnya,
Tak percuma ketika ia hanyalah kepompong,
Yang akhirnya memberikan keindahan warna sayapnya,
Ia melalui proses hidupnya,
Karena seperti itulah ia diciptakan,

Bagiku, ia tetap mahluk cantik,
Cantik dalam kelembutannya,
Cantik dalam kelemahannya,
Sekaligus mahluk yang tanpa ragu berkata pada Khaliknya,
"Aku telah menunaikan tugasku"

Belajar dari bunga


Jika kupandangi dan kuamati,
Semua bunga yang pernah kutemui,
Aku sejenak merenung,
Betapa banyak aku belajar darinya,
Sepanjang waktu,
Sepanjang musim,
Ia senantiasa hadir dalam warna indahnya,
Bentuk indahnya,
Harumnya,

Betapa kuat ia di dalam kelemahannya,
Betapa cantik ia di dalam kehadirannya,
Betapa bahagia ia dalam kehidupannya yang singkat,
Betapa mudah kita merangkainya dalam rangkaian indah,
Sekaligus betapa mudah tangan kita mencampakkannya,
Karena begitu rapuhnya ia,
Namun begitu menakjubkannya hidupnya,

Mungkin karena ia sungguh mengerti,
Untuk apa ia diciptakan oleh Sang Pencipta,
Yang akupun terkadang alpa untuk bertanya,
"Untuk apa aku diciptakan"